Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB) melaporkan serangan rasial yang diterima sejumlah pemain setelah tim nasional tersingkir dari Piala Dunia 2026. Belanda kalah dalam adu penalti melawan Maroko setelah bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
Tiga pemain yang gagal mengeksekusi penalti, yaitu Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville, menjadi sasaran komentar diskriminatif di media sosial. Dalam pernyataan resmi yang dirilis pada Jumat, KNVB menegaskan bahwa tindakan rasis tidak dapat ditoleransi.
KNVB menyadari bahwa sulit untuk menemukan semua pelaku, namun tetap ingin membawa kasus ini ke jalur hukum. "Sayangnya, tidak mungkin mendeteksi dan menangkap setiap pelaku yang mengirimkan komentar bernada rasis. Namun, KNVB ingin mengirimkan pesan yang sangat jelas," tulis federasi.
"Ada batas yang tidak boleh dilanggar dan akan ada konsekuensi bagi siapa pun yang melampaui batas tersebut," lanjut pernyataan itu.
Perdana Menteri Belanda, Rob Jetten, juga mengecam keras pelecehan yang diterima para pemain. Ia berharap pihak kejaksaan akan memproses kasus ini agar menjadi peringatan bagi masyarakat. "Apa yang terjadi setelah pertandingan babak 32 besar itu tentu sama sekali tidak bisa diterima," ungkap Jetten kepada wartawan.
Ia menegaskan bahwa ketika para pemain mengenakan seragam oranye, mereka adalah "anak-anak kita" dan tidak ada yang mempersoalkan warna kulit mereka. Namun, setelah kegagalan mengeksekusi penalti, ujaran kebencian langsung muncul dari berbagai arah.
KNVB berharap proses hukum terhadap para pelaku dapat menjadi langkah nyata dalam memerangi rasisme di dunia sepak bola. Federasi juga menegaskan akan terus memberikan dukungan kepada para pemain yang menjadi korban pelecehan agar dapat kembali fokus menjalani karier mereka bersama tim nasional maupun klub.





