Pelatih Timnas Inggris, Thomas Tuchel, menilai kebijakan jeda minum atau hydration break di Piala Dunia 2026 menghapus karakteristik penting dalam sepak bola.
FIFA menerapkan jeda selama tiga menit di tengah setiap babak untuk membantu tim menghadapi cuaca panas.
Namun, aturan ini mendapat kritik dari para pemain dan suporter dalam 10 hari pertama turnamen. Hydration break juga diterapkan pada pertandingan yang tidak mengalami masalah suhu tinggi.
Kebijakan tersebut diperkirakan akan kembali berlaku saat Inggris menghadapi Ghana di Boston pada Rabu (24-6-2026) dini hari WIB, meski cuaca diprediksi akan hujan deras.
Tuchel mengakui bahwa ia menikmati kesempatan untuk memberikan instruksi saat jeda berlangsung. Namun, ia memiliki pandangan negatif secara keseluruhan mengenai kebijakan tersebut.
"Saya pikir itu mengganggu dan mengubah identitas pertandingan sepak bola lebih besar daripada yang saya bayangkan," kata Tuchel.
Ia menjelaskan bahwa sebelumnya hydration break hanya diterapkan dalam kondisi cuaca ekstrem dan bersifat lebih singkat.
"Sekarang menjadi bagian dari prinsip keadilan untuk semua tim. Akibatnya, pertandingan seolah terbagi menjadi empat bagian dan karakter pertandingan berubah lebih besar daripada yang saya kira," lanjut Tuchel.
Walaupun mengakui keuntungan bagi pelatih, Tuchel menyatakan preferensinya untuk pertandingan yang berjalan tanpa interupsi. "Pertandingan membangun momentum, dan itu bagian dari permainan," ungkapnya.
Menurutnya, hal ini menambah karakteristik sepak bola yang indah. Namun, dengan adanya jeda minum, sebagian karakteristik tersebut hilang.
Dari sisi keadilan, Tuchel memahami perlunya semua tim mendapatkan perlakuan yang sama. Prakiraan cuaca menunjukkan hujan lebat akan mengguyur Boston pada Rabu waktu setempat, sehingga jeda minum mungkin tidak diperlukan untuk rehidrasi.
Meski begitu, Tuchel tetap berencana memanfaatkan waktu tersebut untuk strategi tim. "Kami tentu akan mencoba menggunakannya. Kami sudah memiliki rencana, tetapi tidak terlalu banyak," ungkapnya.
"Saya tidak ingin membatasi diri dalam merespons kebutuhan pertandingan. Saya ingin menggunakan intuisi, pengalaman, dan melihat apa yang benar-benar terjadi," tutup Tuchel.













