Keputusan FIFA untuk mencabut hukuman kartu merah Folarin Balogun memicu kontroversi di Amerika Serikat. Banyak yang berpendapat bahwa Balogun seharusnya tidak absen dalam pertandingan lainnya setelah dikeluarkan dari lapangan saat menghadapi Bosnia-Herzegovina. Absen di sisa pertandingan dianggap sudah cukup sebagai hukuman.
Presiden AS, Donald Trump, juga menyuarakan pendapat serupa. Sementara itu, Gianni Infantino menolak tuduhan adanya campur tangan politik dan menegaskan bahwa komite disiplin FIFA bersifat independen. Namun, persepsi publik tetap menjadi hal yang penting dalam situasi ini.
Keputusan tersebut dinilai lebih menguntungkan tim tuan rumah. Pencabutan larangan Balogun terasa seperti pengampunan presiden, mengingat hubungan dekat antara Trump dan Infantino. Jurgen Klopp, mantan pelatih Liverpool, mengungkapkan kritiknya, "Ini olahraga kita, bukan olahraga mereka.
Jika Donald Trump dan Gianni Infantino benar-benar menyelesaikan masalah ini di antara mereka sendiri, itu gila dan mempertanyakan segalanya."
Klopp juga menyoroti kemungkinan dampak buruk dari keputusan ini yang dapat menciptakan tekanan pada posisi Infantino. Statuta FIFA jelas melarang campur tangan politik, dan negara-negara sering kali diskors dari kompetisi internasional akibat keterlibatan pemerintah dalam asosiasi sepak bola nasional.
Pakistan, misalnya, telah diskors tiga kali dalam delapan tahun terakhir.
Pengundian Piala Dunia, di mana Trump dianugerahi Hadiah Perdamaian FIFA perdana, dianggap sebagai puncak dari usaha Infantino untuk membangun hubungan dekat dengan presiden AS.
Infantino pernah menyatakan, "Anda selalu dapat mengandalkan dukungan saya, dukungan dari seluruh komunitas sepak bola untuk membantu Anda mewujudkan perdamaian dan membuat dunia makmur di seluruh dunia."








