Marc Marquez menunjukkan komitmennya untuk terus berkembang meski telah menjadi salah satu pembalap tersukses dalam sejarah MotoGP. Juara dunia sembilan kali ini tengah mengubah pendekatan saat mengendarai motor untuk mengatasi kelemahan yang kerap menghambat performanya.
Selama bertahun-tahun, Marquez dikenal dengan gaya balap agresif yang membawanya meraih banyak kemenangan. Namun, gaya ini juga mengakibatkan sejumlah kecelakaan serius, terutama setelah cedera lengan kanan yang dialaminya pada musim 2020.
Dalam wawancara di ajang World Ducati Week 2026, Marquez mengungkapkan bahwa ketergantungannya pada insting merupakan kelemahan terbesarnya. "Itu memang menjadi kelemahan dalam karier saya. Saya selalu menyerang tanpa melihat risiko dan tanpa benar-benar mengetahui di mana batasnya," ujarnya.
Marquez menyadari bahwa ia baru mengetahui batas kemampuan motor setelah mengalami kecelakaan. Oleh karena itu, ia berusaha mengubah kebiasaan tersebut dengan pendekatan yang lebih terukur. "Saya baru menyadari batasnya setelah terjatuh, bukan sebelumnya.
Hal itu sudah saya coba perbaiki sejak masih muda, dan sekarang perlahan saya mulai memahaminya," tambahnya.
Perubahan ini menjadi semakin penting setelah kondisi fisiknya tidak lagi sama seperti sebelum cedera serius pada 2020. Marquez merasa perlu lebih cermat dalam mengendalikan insting agar tidak mengambil risiko yang tidak perlu.
"Sekarang saya harus mengendalikan insting itu, terutama karena saya juga harus menjaga kondisi fisik. Saya ingin menghindari situasi tersebut, tetapi itu tidak mudah," jelasnya.
Marquez juga menekankan bahwa salah satu fokus utamanya adalah menemukan gaya balap yang tetap cepat tanpa bergantung pada insting saat berada di lintasan. "Coba lihat berapa kali saya terjatuh pada sesi latihan bebas pertama. Terlalu banyak.
Saat saya mengandalkan insting, tubuh saya tidak selalu bisa mengikuti apa yang saya inginkan," ungkapnya.
Selama akhir pekan balapan, Marquez terus berusaha menemukan gaya balap yang cepat namun tidak bergantung pada insting. Perubahan gaya ini juga berkaitan dengan keterbatasan fisik yang masih dirasakannya akibat cedera lengan kanan, di mana mobilitas lengannya tidak lagi seperti dahulu.
Ia mengaku lebih kesulitan saat melibas tikungan ke kanan dibandingkan sebelum cedera.
Meskipun demikian, adaptasi ini menunjukkan hasil positif. Marc Marquez berhasil tampil kompetitif bersama Ducati dan kembali menjadi kandidat kuat dalam perebutan gelar MotoGP 2026. Jika ia mampu memadukan kecepatan dengan kontrol yang lebih baik, peluangnya untuk mempertahankan performa di papan atas diyakini akan semakin besar.







