Mory Diaw mengungkapkan permintaan maaf setelah kesalahan fatal yang dilakukannya saat Senegal tersingkir dari Piala Dunia 2026. Kesalahan tersebut terjadi saat Senegal unggul 2-0 atas Belgia, sebelum akhirnya Belgia membalikkan keadaan dan meraih kemenangan dramatis.
Diaw, yang menggantikan Edouard Mendy yang cedera, melakukan blunder saat mencoba mengantisipasi bola. Kesalahan ini memberi peluang bagi Youri Tielemans untuk mencetak gol yang menghidupkan harapan Belgia. Diaw mengakui tanggung jawabnya atas hasil mengecewakan tersebut.
Dalam unggahan di media sosial, Diaw menyatakan, "Saya tidak perlu menonton tayangan ulang untuk mengetahui bahwa saya memikul sebagian tanggung jawab. Sebagai seorang penjaga gawang, Anda harus hidup dengan momen-momen seperti ini. Satu aksi bisa menghapus semua hal baik yang telah dilakukan sebelumnya."
Kiper Le Havre ini juga mencurahkan kesedihannya karena impian masa kecilnya untuk membela Senegal di Piala Dunia berakhir dengan cara yang menyakitkan. Dia berharap kegagalan ini tidak menghapus kerja keras tim selama bertahun-tahun.
"Sejak kecil saya bermimpi mengenakan seragam Senegal di Piala Dunia. Saya membayangkan momen itu ribuan kali, tetapi tidak pernah membayangkan semuanya berakhir dengan kehampaan seperti ini.
Di balik setiap kemenangan dan keberhasilan, ada pengorbanan besar, kerja keras, cedera, keraguan, dan kelompok yang tidak pernah berhenti percaya," ujarnya.
Diaw merasa sangat terpukul karena merasa telah mengecewakan rekan setim, keluarga, dan seluruh masyarakat Senegal yang menaruh harapan besar pada tim nasional. "Hari ini saya merasakan kesedihan yang sangat besar.
Untuk rekan-rekan setim saya yang telah memberikan segalanya, untuk keluarga kami, dan terutama untuk seluruh rakyat Senegal yang bermimpi bersama kami. Saya minta maaf karena tidak bisa membawa kalian melangkah lebih jauh. Rasa sakit ini akan saya bawa untuk waktu yang lama," tuturnya.
Meski begitu, Mory Diaw berjanji untuk bangkit dari kegagalan tersebut. Dia percaya bahwa luka terbesar sering kali menjadi sumber kekuatan untuk kembali lebih baik di masa mendatang. "Terkadang luka terbesar justru menjadi kekuatan terbesar.
Saya akan kembali dengan tekad yang lebih kuat karena lambang di dada ini pantas diperjuangkan kembali, apa pun tantangannya," pungkasnya.






