Jose Mourinho tegas menyatakan tim nasional Portugal kehilangan tajinya dan tampil seperti tim papan tengah saat bermain tanpa Cristiano Ronaldo.
Pernyataan lugas Mourinho ini muncul usai Portugal bermain imbang 0-0 melawan Meksiko di Stadion Azteca.
Hasil imbang tersebut mengejutkan banyak pihak, mengingat reputasi Portugal sebagai kekuatan Eropa.
Pertandingan persahabatan tersebut digelar tanpa kehadiran sang megabintang, Cristiano Ronaldo, yang absen karena cedera.
Absennya Ronaldo secara signifikan mengubah dinamika dan kekuatan serangan tim.
Meskipun memiliki pemain kunci seperti Bruno Fernandes, Joao Cancelo, dan Vitinha, tim Eropa itu gagal memberikan tekanan berarti.
Talenta individu para bintang ini tidak cukup menciptakan perbedaan krusial.
Hal ini memicu banyak perdebatan tentang kekuatan Portugal tanpa kehadiran kapten mereka yang ikonik.
Perdebatan ini mempertanyakan identitas tim tanpa ikon utama mereka.
Pelatih yang kini membidani Benfica DC ini berpendapat bahwa tim nasional negaranya menjadi biasa saja tanpa Ronaldo.
“Tanpa Ronaldo, Portugal terlihat seperti tim papan tengah,” ujar Mourinho, menegaskan pandangannya yang tajam.
Penilaian ini menyoroti kurangnya daya juang dan kreativitas kolektif tim, yang sebelumnya sering diinspirasi Ronaldo.
Ia menekankan bahwa perbedaannya bukan hanya terletak pada kemampuan teknis di lapangan yang dibawa Ronaldo.
Namun, juga pada dampak psikologis yang dimiliki sang superstar terhadap mentalitas lawan.
Kehadiran Ronaldo seringkali membuat lawan bermain lebih hati-hati dan defensif, membatasi strategi mereka.
Mourinho membantah pandangan sebagian penggemar untuk mengurangi peran Ronaldo dalam tim nasional.
Menurutnya, absennya Ronaldo berarti lawan tidak lagi merasa terancam dan bermain lebih bebas.
“Orang-orang bilang jangan memanggilnya lagi, hari ini dia tidak bermain dan Anda lihat hasilnya,” tambahnya dengan nada menyindir.
Ia melanjutkan, “Tidak ada bahaya, tidak ada kekhawatiran dari pihak lawan ketika Ronaldo tidak ada.”
“Ketika Ronaldo berada di lapangan, lawan-lawannya akan berpikir dua kali,” imbuh pelatih berpengalaman itu.
Mereka harus mempertimbangkan setiap pergerakan dan posisi sang penyerang legendaris, sebuah ancaman konstan.
Hasil imbang ini menimbulkan pertanyaan serius tentang ketergantungan Portugal pada Ronaldo, bahkan di era baru.
Bahkan di usia 41 tahun, Ronaldo tetap menjadi sosok penting bagi klubnya dan tim nasional, membuktikan vitalitasnya.
Pelatih Roberto Martinez secara jujur mengakui bahwa Ronaldo masih merupakan pemain vital bagi Portugal.
Pengakuan ini memperkuat argumen Mourinho tentang pentingnya kehadiran CR7, baik di dalam maupun luar lapangan.



























