Manajer Manchester City, Pep Guardiola, menjadi sorotan utama bukan hanya karena kekalahan timnya di Liga Champions, tetapi juga pilihan busananya yang tak biasa.
Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dari merek Swedia Our Legacy, koleksi Musim Gugur/Dingin 2024, pada leg kedua.
Pilihan gaya ini mengejutkan banyak pihak, memicu perdebatan luas antara penggemar sepak bola dan pegiat mode.
Fans tradisional mengolok-oloknya, sementara kalangan menswear justru memuji keberanian Pep yang dianggap santai namun berani.
Bahkan, majalah GQ Inggris sampai bertanya-tanya apakah Pep kini telah menyewa seorang penata gaya pribadi.
Faktanya, busana Pep yang terdiri dari kemeja oversize, celana abu-abu gelap, dan sepatu bot merah itu bukanlah kebetulan.
Our Legacy, merek kultus asal Swedia yang aktif sejak 2005, mendadak jadi perbincangan global berkat panggung Liga Champions.
Jurnalis Daniel-Yaw Miller dari The Guardian menafsirkan gaya Pep sebagai tanda ia “melepas rem tangan” atau lebih bebas.
Ini mencerminkan pergeseran dalam caranya berinteraksi dengan pemain, media, dan kini, dalam pilihan berbusana.
Pilihan Pep juga menyoroti perbedaan pandangan soal gaya pria: antara yang tradisional dan yang berani menafsirkan ulang.
Kemeja Our Legacy yang dikenakan Pep memiliki harga sekitar 290 EUR, atau sekitar Rp5.075.000.
Oscar Gala, pemilik toko Mini Shop di Madrid, menjelaskan Our Legacy sudah lama populer di kalangan tertentu.
Merek ini dikenal dengan kualitas tinggi dan gaya terinspirasi estetika pedesaan Amerika, memadukan nuansa cowboy dan Viking.
Kemeja flanel oversize Pep mengingatkan pada gaya Ralph Lauren di pertengahan era 80-an.
Menariknya, banyak pesepak bola top seperti David Beckham dan Sergio Ramos sudah lama menggemari merek mode kultus.
Namun, pilihan Pep di panggung besar membuatnya menjadi sorotan publik yang lebih luas dan memicu diskusi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa dunia sepak bola dan mode semakin menyatu, melampaui batasan yang dulu ada.






























