Piala Dunia FIFA 2026 seharusnya menjadi perayaan paling kolosal dalam sejarah sepak bola.
Dengan format baru yang melibatkan 48 tim di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, turnamen ini menjanjikan pesta lintas batas yang tak tertandingi.
Namun, menjelang peluit pembuka dibunyikan, euforia itu justru tertutup oleh gelombang protes yang makin deras.
Penyebab utamanya hanya satu, yaitu harga tiket yang kian mencekik dan sama sekali tak masuk akal.
Per awal April 2026, linimasa media sosial dan forum-forum suporter global dipenuhi oleh keluhan yang seragam.
Rilis penjualan tiket fase terbaru memperlihatkan angka yang sukses membuat para penggemar sepak bola kelas pekerja harus menelan ludah.
Bayangkan saja, harga tiket untuk laga final kini meroket hingga menyentuh angka USD 10.990, atau setara dengan Rp 186 juta untuk kategori tertinggi!
Padahal, dalam dokumen World Cup bid book awal, harga termahal untuk laga puncak tersebut diproyeksikan maksimal hanya USD 1.550 (sekitar Rp 26 juta).
Sebagai perbandingan, pada final Piala Dunia 2022 di Qatar lalu, harga tiket termahal masih berada di kisaran USD 1.600.
Ketika The Beautiful Game seharusnya menjadi milik semua golongan, FIFA tampaknya makin asyik mengubahnya menjadi hiburan eksklusif.
Penerapan sistem harga dinamis (dynamic pricing) pada edisi kali ini dituding menjadi biang kerok yang membuat harga melonjak liar mengikuti tingginya permintaan global.
Bahkan untuk tiket Kategori 4 laga final yang biasanya merakyat, harganya kini ikut terkerek hingga mencapai USD 3.950 atau sekitar Rp 67,2 juta.
Meskipun FIFA sempat menggembar-gemborkan tiket Supporter Entry Tier seharga USD 60, alokasinya di lapangan terasa seperti mencari jarum di tumpukan jerami.
Penderitaan suporter tidak berhenti di situ, karena jarak antar-kota penyelenggara di Amerika Utara juga sangat masif.
Seorang suporter yang ingin mengikuti fase grup negaranya harus bersiap terbang ribuan kilometer melintasi perbatasan negara bagian hingga negara tetangga.
Beban logistik berupa tiket pesawat dan akomodasi ini, ditambah harga tiket laga yang selangit, dipastikan akan menguras habis tabungan seumur hidup mereka.
Infrastruktur mutakhir dan stadion berkapasitas raksasa di negara tuan rumah memang membutuhkan pengembalian modal investasi yang sangat besar.
Namun, FIFA harus ingat bahwa mereka adalah penjaga gawang dari sebuah olahraga yang lahir dari jalanan dan keringat kelas pekerja.
Jika tiket-tiket bernilai ratusan juta rupiah itu tetap terjual habis, pastinya hanya akan diborong oleh korporat dan elit ekonomi yang datang sekadar karena FOMO.
Dampak buruknya, stadion raksasa itu berisiko diisi oleh “penonton teater” yang hanya duduk diam, mematikan atmosfer magis dan gairah suporter sejati di tribun.
Sementara itu, suporter militan yang menjadikan sepak bola sebagai detak jantung mereka hanya bisa gigit jari menonton dari layar televisi.
FIFA memang berpotensi memecahkan rekor pendapatan paling fantastis pada edisi 2026 ini berkat mahalnya harga tiket tersebut.
Meskipun begitu, panen protes dan kemarahan publik di bulan April ini seharusnya menjadi “kartu kuning” peringatan yang sangat serius.
Jangan sampai, demi mengejar margin laba yang membengkak, FIFA justru membunuh jiwa dari sepak bola itu sendiri.



























